Jakarta (SI Online) - Sekretaris DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta, Habib Novel Bamu'min menolak tuduhan bahwa insiden bentrokan di kantor DPRD DKI Jakarta pada Jumat (3/10/2014) siang adalah aksi anarkis yang direncanakan.

"Kejadian bentrokan tersebut tidak diduga sama sekali, kami melihat ada beberapa provokator yang mulai bertindak saat acara sudah mau selesai disaat polisi membuka pintu gerbang kantor DPRD. Dan sepertinya polisi yang pancing dengan sengaja membuka gerbang kantor DPRD," ujar Habib Novel kepada Suara Islam Online, Jumat (3/10/2014).


Ia juga membantah, jika laskar FPI telah menyiapkan batu untuk aksi tersebut. "Bohong besar, itu fitnah, kita tidak pernah menginstruksikan bawa batu apalagi senjata," tegasnya.


Habib Novel menduga bentrokan ini ada yang merencanakan. "Sepertinya ini sudah di setting, kita menduga ada orang-orang Ahok yang menyusup yang sengaja bikin ributnya di DPRD bukan di Balaikota. Padahal target kita aksinya di Balaikota bukan ke DPRD, dan surat izin ke polisinya juga jelas aksi demo ke Balaikota. Dan dengan DPRD kita sebelumnya juga aksi damai dan kita diterima dengan baik, semua fraksi menerima, bagus semua, ga ada masalah," ungkapnya.


Habib Novel menyayangkan kejadian ini, kepada pihak aparat ia menghimbau untuk bersinergi dan tidak bermusuhan.


"Kita tidak mau berhadapan dengan polisi dan satpol pp, justru kita mengajak polisi dan satpol pp yang sama-sama muslim untuk berhadapan dengan Ahok. Mari bersama-sama perjuangkan agar Ahok turun, jangan malah berhadapan dengan kita," katanya.


Habib Novel menegaskan, FPI bersama umat Islam akan terus menolak Ahok karena telah menghina syiar Islam, yang baru-baru ini telah melarang penjualan dan penyembelihan hewan kurban di sejumlah tempat di Jakarta.


"Jadi Ahok wajib kita turunkan karena telah menghina Islam," tegasnya.


Akibat bentrokan ini sejumlah laskar FPI dilarikan ke rumah sakit dan sebanyak 21 orang laskar diamankan polisi untuk dimintai keterangan.

Posting Komentar